Memuat...

  • 16 April 2026 06:11 AM

Mengenal Rumah Budaya Malik Ibrahim Sidoarjo

Mengenal Rumah Budaya Malik Ibrahim Sidoarjo

Rumah Budaya Malik Ibrahim di Sidoarjo jadi ruang pertemuan komunitas seni, sejarah, dan budaya lokal hingga internasional sejak 2020.

SIDOARJOUPDATE, KOTA — Di tengah hiruk pikuk kehidupan urban yang kian padat, sebuah ruang alternatif hadir di Sidoarjo sebagai tempat bertemu, berdiskusi, dan merayakan kebudayaan. Tempat itu bernama Rumah Budaya Sidoarjo, yang oleh banyak komunitas juga dikenal dengan sebutan Rumah Budaya Malik Ibrahim.

Sejak berdiri pada tahun 2020, rumah budaya ini menjadi titik temu berbagai komunitas seni, budaya, hingga sejarah dari Sidoarjo dan Surabaya. Di tempat inilah diskusi hangat soal budaya, seni tradisi, sejarah, sastra, hingga aksara Jawa kuno terus digelar secara rutin.

Setidaknya, setiap bulan berlangsung antara 4 hingga 12 kegiatan komunitas. Mulai dari pemutaran film oleh komunitas film independen, diskusi puisi oleh komunitas sastra, hingga kelas belajar Aksara Jawa Kuno.

“Kami sangat terbuka. Komunitas mana pun bisa menggunakan tempat ini untuk kegiatan mereka. Cukup DM ke Instagram kami atau hubungi langsung lewat WhatsApp,” ujar Satriagama Rakantaseta, pendiri sekaligus pengelola Rumah Budaya Sidoarjo.

Pria yang akrab disapa Seta ini memang tak asing di dunia kesenian. Ia sempat terlibat dalam penyelenggaraan ArtJog sejak 2005 hingga 2015, bahkan pernah menjabat sebagai Executive Director. Kini, bersama rekannya, Iin, ia mendedikasikan Rumah Budaya sebagai wadah dialog, tukar pikiran, sekaligus pelestarian nilai-nilai budaya.

Membumikan Budaya, Menyadarkan Jati Diri

rumah-budaya-malik-ibrahim.jpg

Menurut Seta, banyak masyarakat belum memahami bahwa budaya tidak selalu identik dengan tradisi. Lebih dari itu, budaya mencakup teknologi, pola pikir, dan nilai-nilai kehidupan yang berkembang dalam masyarakat.

“Kereta api itu juga budaya, bukan sekadar tradisi. Tapi masyarakat kita seringkali menyamakan budaya dengan hal-hal yang berbau klenik atau masa lalu,” jelasnya.

Sejumlah diskusi di Rumah Budaya pun mengangkat topik sejarah lokal, termasuk cerita wafatnya Sultan Trenggana dari Kerajaan Demak yang konon terjadi di Sidokare pada tahun 1546. Catatan V.O.C. dan dokumen Hindia Belanda menjadi bahan kajian menarik yang terus digali.

“Kalau benar pusat Kadipaten Surabaya ada di Sidoarjo, ini bisa mengubah cara pandang kita tentang identitas kota ini. Sidoarjo bukan sekadar penyangga Surabaya, tapi punya sejarahnya sendiri,” tambah Seta.

Ruang Kolaborasi dari Lokal hingga Global

rumah-budaya-malik-ibrahim-1.jpg

Rumah Budaya Sidoarjo tidak hanya membahas tema-tema lokal. Beragam kegiatan juga mengusung isu regional hingga internasional.

Tak hanya komunitas lokal, Rumah Budaya juga menjalin kerja sama dengan kampus-kampus di Surabaya, Sidoarjo, Malang, hingga Yogyakarta, serta sejumlah lembaga kebudayaan internasional. Semua kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat jati diri masyarakat melalui pendekatan budaya.

Melalui ruang kecil yang hangat dan terbuka itu, Rumah Budaya Sidoarjo hadir bukan hanya sebagai tempat berkegiatan, tetapi juga sebagai ruang refleksi: untuk memahami asal-usul, menggali potensi, dan menemukan makna kemerdekaan dalam arti yang lebih luas. (RM/SN/SU.id)