Memuat...

  • 16 April 2026 06:13 AM

Hadapi Musim Hujan, Pemkab Sidoarjo Kebut Normalisasi Sungai dan Siagakan 34 Pompa

Hadapi Musim Hujan, Pemkab Sidoarjo Kebut Normalisasi Sungai dan Siagakan 34 Pompa

Pemkab Sidoarjo percepat normalisasi sungai dan siagakan 34 pompa air untuk antisipasi banjir jelang musim penghujan November mendatang.

SIDOARJOUPDATE — Menjelang musim penghujan yang diperkirakan tiba pada November, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo mempercepat normalisasi sejumlah sungai serta menyiagakan 34 pompa air guna mencegah potensi banjir dan genangan di wilayah rawan.

Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Sidoarjo terus mempercepat pengerjaan normalisasi di beberapa titik strategis. Salah satunya di Afvoer Kedung Peluk Kecamatan Candi sepanjang tiga kilometer.

Kepala Dinas PU Bina Marga dan SDA Sidoarjo Eko Dwi Saptono menjelaskan, progres pengerjaan telah mencapai 600 meter dan ditargetkan rampung sebelum hujan turun.

“Semoga dalam waktu satu bulan ke depan, saluran Tekukpenjalin di Afvoer Kedungpeluk ini bisa ternormalisasi dengan baik,” ujar Eko Dwi Saptono saat meninjau lokasi, Minggu (19/10/2025).

Eko menambahkan, saat ini Pemkab fokus melakukan normalisasi di wilayah timur yang mengarah ke hilir. Tercatat ada empat titik utama pengerjaan sungai yang sedang dikebut.

“Harapan kami, dengan normalisasi ini genangan air bisa dikurangi bahkan kalau bisa tidak ada lagi genangan di kawasan rawan banjir,” ujarnya.

Tak hanya Pemkab, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga akan menormalisasi sekitar tujuh kilometer aliran sungai yang mengarah ke wilayah pantai.

Sementara itu, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas turut berperan dengan menormalisasi sungai di wilayah selatan dan utara Sidoarjo.

“Kami fokus di hilir semua. Nantinya, hilir Sungai Mbah Gepuk mulai jembatan Kedungpeluk hingga wilayah pantai sepanjang tujuh kilometer akan dinormalisasi oleh Pemprov Jatim,” jelas Eko.

Sebagai langkah mitigasi tambahan, Pemkab Sidoarjo juga menyiagakan 34 unit pompa air di berbagai titik, termasuk empat desa di Kecamatan Tanggulangin yang mengalami penurunan tanah.

“Pompa kami jumlahnya 34 unit, semuanya siap difungsikan bila terjadi genangan,” tegas Eko Dwi Saptono.

Warga Perumahan Bumi Cabean Asri menyambut baik langkah normalisasi tersebut. Salah seorang warga yang enggan disebut namanya mengatakan, Sungai Kedungpeluk kerap meluap saat hujan deras sehingga menyebabkan genangan hingga 40 sentimeter.

“Bagus ada pengerukan sungai menghadapi musim penghujan. Dulu air sering meluber dan lama surutnya, semoga sekarang lebih cepat mengalir,” ujarnya.

Menurut warga, Sungai Kedungpeluk menjadi titik tumpuan aliran air dari berbagai arah. Tumbuhan liar seperti enceng gondok sering kali menyumbat aliran air, menyebabkan genangan bisa bertahan hingga sepekan.

“Kalau bisa, setelah pengerukan ini air cepat surut, jadi aktivitas warga tidak terganggu,” tambahnya. (RM/SN/SU.id)