Memuat...

  • 16 April 2026 11:57 AM

Siswa SMA Progresif Bumi Shalawat Raih Medali Perak di Jepang Lewat Inovasi Pemurni Udara

Siswa SMA Progresif Bumi Shalawat Raih Medali Perak di Jepang Lewat Inovasi Pemurni Udara

Siswi SMASIF Bumi Shalawat raih medali perak di Jepang lewat inovasi alat pemurni udara SCAPE 2.5. Bawa nama Indonesia di ajang JDIE 2025 Tokyo.

SIDOARJOUPDATE, KOTA – Semangat dan prestasi luar biasa terpancar dari sosok Faridah Zaskia Zannuba, santriwati asal Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Siswi Sekolah Menengah Atas Progresif Bumi Shalawat (SMASIF) Sidoarjo ini meraih medali perak (silver medal) dalam ajang Japan Design, Idea & Invention Expo (JDIE) 2025 yang berlangsung di Ballesale Haneda Airport, Tokyo, Jepang, pada 5–6 Juli 2025.

Tidak sendirian, Zaskia memimpin tim yang beranggotakan Rayya At Tamam, Alya Raniah Zahra, Anjani Jayaningrum, dan Syakirah Halimah Khairunnisa. Bersama, mereka menciptakan inovasi bertajuk SCAPE 2.5, sebuah alat pemurni udara portable yang hemat energi dan dirancang untuk menyaring partikel halus PM2.5, khususnya di area semi-terbuka seperti koridor, kantin, dan ruang merokok.

SCAPE 2.5 bekerja dengan sistem Electrostatic Precipitator (ESP) yang menggunakan elektroda berbahan tembaga dan aluminium. Sistem ini menghasilkan medan listrik bertegangan tinggi untuk mengionisasi partikel udara, dilengkapi dengan kipas, filter karbon aktif, serta filter HEPA. Hasil pengujian menunjukkan alat ini mampu menurunkan konsentrasi PM2.5 hingga 77,78 persen dalam waktu 60 menit pada tegangan 400 volt.

“Kami ingin berkontribusi nyata lewat inovasi. SCAPE 2.5 tidak hanya dibuat untuk lomba, tapi juga sebagai solusi yang berdampak bagi masyarakat,” ujar Zaskia saat dihubungi, Senin (15/7/2025).

Ajang JDIE yang diselenggarakan oleh World Intellectual Invention Property Association (WIIPA) diikuti lebih dari 366 tim dari 25 negara, termasuk Jepang, Kanada, Rusia, Filipina, dan Arab Saudi. Persaingan ketat tak menghalangi Zaskia dan tim untuk menunjukkan potensi terbaik mereka.

“JDIE bukan hanya soal medali. Ini tentang bagaimana ide bisa menjadi jembatan pertemanan dan pembelajaran global. Saya pulang membawa lebih dari sekadar penghargaan, tapi juga semangat dan inspirasi baru,” ungkap Zaskia

Bagi Zaskia, pengalaman tersebut menjadi tonggak penting dalam hidupnya. Ia belajar banyak tentang teknologi, kerja tim lintas negara, hingga nilai-nilai kerja keras di balik setiap penemuan.

Ia pun membagikan motivasi kepada sesama pelajar Indonesia.

“Jangan takut bermimpi besar. Kunci keberhasilan ada pada konsistensi belajar, keberanian bertanya, cara berpikir solutif, dan membangun tim yang solid,” pesanya.

Inspirasi dari Orang Tua

Capaian Zaskia disambut haru oleh keluarga, terutama sang ibu, Helmi Sudiono Fauzan, yang juga menjabat sebagai Bendahara PC Fatayat NU Bangil.

“Ketika tahu Zaskia dipercaya menjadi ketua tim, saya sudah sangat bangga. Tapi saat mendengar kabar bahwa timnya meraih medali perak di antara ratusan peserta dari 25 negara, saya menangis haru. Ini kemenangan bukan hanya untuk keluarga kami, tapi juga untuk Indonesia,” kata Helmi.

Helmi menambahkan, dukungan terhadap pendidikan anak adalah komitmen utama keluarga.

“Ibu dan Baba akan selalu ada untukmu, Nak. Teruslah berkarya dan memberi manfaat,” tuturnya penuh kasih. (RM/SN/SU.id)